Fungsi Baju Hazmat Untuk Melindungi Tenaga Medis

By | Februari 21, 2021| 0 Comments

Protokol kesehatan mengharuskan para petugas medis menggunakan baju hazmat saat berinteraksi dengan pasien penyakit tertentu. Kata “hazmat” adalah singkatan dari hazardous material, yaitu pakaian yang bisa melindungi diri dari penyakit menular melalui udara. Penggunaan pakaian pelindung ini tak hanya untuk para tenaga medis saja, namun profesi lain yang berisiko terpapar zat berbahaya disarankan menggunakannya. Mulai dari zat bahan kimia, biologis, hingga bahan radioaktif.

Fungsi kegunaan baju hazmat

Baju hazmat adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh, dan didesain khusus untuk melindungi penggunanya dari zat berbahaya. Pakaian ini termasuk alat pelindung diri (APD), seringkali juga disertai penggunaan kacamata pelindung, sarung tangan medis, dan sepatu khusus.Tidak semua petugas medis diharuskan mengenakan pakaian pelindung ini.

Hanya mereka yang bekerja di area rentan kontaminasi saja yang diwajibkan menggunakannya.Utamanya ketika masa pandemi COVID-19, para petugas medis yang kontak secara langsung maupun tidak langsung dengan pasien harus menggunakan baju hazmat. Berbeda rumah sakit, berbeda pula protokol kesehatan yang diterapkan.Sifat baju pelindung ini adalah impermeable yang berarti tidak memungkinkan dimasuki cairan atau gas apapun. Dengan demikian, zat berbahaya seperti droplet dari pasien tidak berisiko menyentuh langsung pengguna pakaian pelindung.

Kategori baju hazmat

Umumnya, baju hazmat dikelompokan dalam Level A, B, C, dan D bergantung pada perlindungan yang diberikan, yaitu:

  • Level A

Memberikan perlindungan tertinggi terhadap pemakaianya dari asap, gas, debu, dan partikel. Baju hazmat level A juga dilengkapi dengan alat untuk bernapasan yang terdapat di dalam pakaian.

  • Level B

Pakaian pelindung level B memberikan proteksi dari cipratan air dan zat kimia. Pakaian ini dilengkapi dengan sepatu boots serta sarung tangan namun tidak kedap udara. Level B digunakan ketika tingkat perlindungan yang diperlukan lebih rendah dari level A.

  • Level C

Bahan baju hazmat yang digunakan dalam level C sama seperti level A dan B, hanya saja bedanaya alat pelindung pernapasannya bisa berbeda. Pada umumnya, pakaian level C digunakan oleh tenaga medis saat kontak langsung dengan pasien atau korban.

  • Level D

Pakaian level D tidak melindungi dari paparan zat kimia. Penggunanya masih perlu mengenakan gaun penutup, sepatu pelindung dengan sol baja, serta face shield untuk melengkapi perlindungan.Seluruh jenis baju hazmat digunakan paling awal untuk melapisi pakaian yang semula dikenakan. Barulah kemudian digunakan sepatu, sarung tangan, gaun, atau masker untuk memastikan tidak ada ruang untuk kontaminasi.

Cara melepaskan baju hazmat

Di saat pandemi COVID-19 seperti saat ini, semakin terlihat dengan jelas bagaimana perjuangan tenaga medis sebagai garda terdepan ketika harus bertugas menggunakan baju hazmat. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memasang dan juga melepaskannya. Terlebih lagi, seluruh prosedurnya harus benar-benar tepat untuk menghindari kontaminasi di bagian tubuh manapun.

Pertama yang harus diperhatikan, lepaskan dengan menggulung ke bawah dari kepala ke kaki. Langkah selanjutnya, pengguna harus mencuci tangan di tiap langkahnya. Begitu pula saat sudah selesai melepas baju hazmat, jika memungkinkan harus membilas seluruh tubuh dan segera mandi. Metode yang aman untuk melepas Alat Pelindung Diri menurut Centers for Disease Control (CDC) adalah agar memastikan tidak menyentuh bagian luar APD karena telah terkontaminasi.

yusuf habib

Pembisnis muda yang bercita-cita ingin membangun platform digital kesehatan terbesar di dunia

Leave a Comment

Your email address will not be published.